CINTA SENJA
Rinai menangis dalam sujudnya. Ia tak menyangka pria yang dihormati karena rasa cinta pada dirinya menyimpan kesenangan semu. Menikmati kepalsuan hidup dalam pelukan wanita-wanita cantik pujaannya. Prasetyo bersikap angkuh, berusaha tampak seperti pria sejati. Tapi sesungguhnya ia rapuh. Rapuh karena merasa tak disayang, rapuh karena merasa serba kurang dan tak punya apa-apa. Kesedihan Rinai terhadap Prasetyo membuka dirinya, bahwa mereka memang berbeda dalam memandang makna hidup. Ia semakin paham. Itulah sebab, Alloh menghadirkan kisah ini. Sudah waktunya bagi Rinai untuk melupakan semuanya. Bagai sapuan ombak di waktu senja.
***
Rinai membiarkan tubuhnya diterpa hembusan angin. Ia memandang lurus Ara yang asik bermain di bibir pantai. Tubuh mungilnya sedang sibuk memilih kulit kerang yang terbawa ombak. "Hai, sudah lama menunggu?" Agak terkejut Rinai menggeser tubuhnya. Ia memberi senyum pada pria di depannya. Ia duduk disebelah Rinai. Matanya memandang ke depan. "Aku suka dengan akhir dari novelmu kemarin, kenapa kau buat seperti itu? Rinai menoleh sekilah, memandang wajah di sebelahnya. "Seharusnya demikian. Takdir sudah ia pilih, maka ia harus bersyukur dengan apa yang Alloh hadirkan. Bukan mengelak, atau bersiasat lain untuk hal yang tidak penting". Tampak Ara berlari menuju arah mereka. Rinai tersenyum melihat apa yang dibawa Ara. Hanya ini yang ia miliki untuk hidup selanjutnya. Tak akan ada yang dapat memisahkan keabadian cinta pada Ara ataupun sebaliknya. Sekalipun hatinya terluka karena sikap Prasetyo.
"Aku pulang, kamu baik-baik jaga diri dan Ara!" Rinai mengangguk sambil tersenyum. Ia dan Ara melepas kepergian pria yang telah menemaninya sore ini. "Kenapa dia tidak makan dengan kita, Mah?" "Tidak, keluarganya pasti menunggu untuk makan bersama!" Rinai bergerak mendekati ke arah bibir pantai. Ara mengikuti langkahnya. Masih ada sisa bias-bias orange yang bersiap turun. Ia masih ingin menikmati waktu ini, walau tinggal beberapa saat lagi. "Papa suka tempat ini. Kita tunggu sampai hidangan malam selesai dimasak! Ara tak peduli dengan apa yang ada dalam pikiran ibunya. Ia sedang sibuk menahan dingin karena bajunya yang basah. Kepiting saos tiram telah dipesan khusus untuknya. Ia suka kepiting, karena Papa pernah membelikannya.
***
Jika ia tak sanggup meminta maaf, maka akulah yang hadir untuk meminta maaf. Ia telah melukai banyak hati karena keangkuhannya. Permainannya harus dihentikan. Jika tidak, ia akan menyesal kehilangan semuanya. Rinai menyimpan rasa marah yang hebat pada Prasetyo. Tetapi ia cuma seorang manusia biasa yang terbatas untuk merubah pandangan orang. Semua hal ini membutuhkan kekuatan do'a. Tak akan sanggup siapapun merubah hati manusia.
Hatinya penuh kemarahan dan kekecewaan. Ibarat kotak kenyataan, ia hanya ingin. Kotak satu itu tidak berada di dekatnya. Ia hanya berpikirkan satu kotak terbaik. Untuk menyimpan semua rasa yang tak disukai ke dalam kotak kenyataan. Ia paketkan menggunakan fasilitas kilat dengan kereta woosh.... Lalu, diantarkan ke bandara ternama oleh kurir hebat untuk mendapat fasilitas pesawat jet termewah. Mendudukkan pada kursi eksekutif. Agar tetap tegar dalam perjalanan... Perlu turun dulu untuk dibawa oleh kapal laut pesiar termewah yg memiliki fasilitas kapal selam. Tujuannya adalah laut dalam yang paling terdalam sedunia... Lempar kotak kenyataan pada mulut hiu yang sedang menganga. Agar ia menggerusnya hingga lumat. Lalu pergi dan mengibaskan ekornya. Da da.... Semuanya harus berlalu dan kembali pada jalan yang seharusnya.
***
Rinai semakin paham, permainan apa yang Prasetyo lakukan pada dirinya. Empat tahun yang lalu, Prasetyo berlari kecil menyusuri pantai Abu. Lalu ia membuat tulisan "I Love You". Mengirimnya via whapApp dipagi hari yang penuh kepadatan. Rinai tak dapat membacanya saat itu. Kacamatanya tertinggal di rumah. Prasetyo terus meminta Rinai menjawabnya. Rinai tahu, ia menginginkan jawaban dari perasaannya. Rinai tahu, jawaban yang ia berikan adalah sebuah kebodohan. Sama saat ia menyadari suatu hal. Dengan santai Prasetyo berkata "Aku sayang padamu, walau tak bisa memiliki". Sebuah pernyataan yang sesungguhnya sangat melukai. Semakin Rinai sadar akan kebodohannya, ketika dengan santai Prasetyo ingin memasangkan dirinya dengan orang lain. Sungguh... kebodohan yang terlambat ia temukan setelah isak tangis Hanna dalam pelukannya.
Ia tak menyangka Hanna menyampaikan semua hal yang ia rasakan. Sungguh, Rinai sangat terpukul. Bagaimana pria yang ia hormati mampu memperlakukan Hana dengan cara yang tidak hormat. Hanya untuk mendapatkan semua hal yang diinginkan dimasa lalu. Rinai terdiam cukup lama... Hingga ia menyadari, bahwa inilah jawaban yang selama ini ia minta dari Alloh. Saat ia sulit untuk menerima ini semua. Ia sering bertanya dalam hatinya. Apa sesungguhnya yang sedang ia alami. Apa sesungguhnya yang terjadi padanya.
Kehidupan ini memang tidak bisa ia duga. Semakin rumit bagi dirinya, saat Hanna meminta pertolongannya. Ia bukan orang yang senang mencampuri urusan orang lain, tetapi ia tidak tega melihat Hanna yang terus menerus diperlakukan tidak hormat oleh Prasetyo. Hanna memang tidak bisa lepas dari Prasetyo, ia sudah terlanjur berjanji pada orang tuanya. Buat Rinai, ini adalah hal yang paling rumit, dibandingkan menyelesaikan hitungan matematika.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar